Matematika dan Etika – Sebuah Renungan Metafisika

Seringkali, faktor intangible yang tak tampak wujudnya, lebih mampu menaikkan nilai sebuah produk. Merek, misalnya, bagaimana sebuah bakpia yang bernama Bakpia 25 mampu mengungguli bakpia-bakpia lain di sekitarnya. Padahal, yo sebenarnya, bakpianya sama aja dengan bakpia lain disana. Karena namanya Bakpia 25, maka banyak yang ke yogya nyarinya oleh-oleh Bakpia 25.
Manusia tanpa jiwa, dia hanya seonggok jasad yang menginjak sendiri materi asal kehidupannya, tanah. Sampai Miskawaih, ahli etika muslim, mengatakan bahwa kualitas jiwa manusialah yang menentukan kualitas kemanusiaannya.
Layaknya manusia yang terdiri atas jasad dan jiwa, ada lahir dan ada batin, dan adanya perbedaan kedudukan diantara keduanya. Begitu pula matematika. Ia tak cuma seonggok rumus yang diisi angka-angka. Ada nilai-nilai etika yang bisa kita renungkan di dalamnya.

***

Jika sering dari kita bertanya-tanya,
“Untuk apa sih belajar matematika? Toh gak dipake juga nantinya…”

Salah satu jawabannya bisa dilihat disini.

Sementara sarjana muslim zaman dulu kala, telah merefleksikan matematika sedemikian rupa sehingga tercipta beberapa etos yang melatih kemampuan-kemampuan jiwa dan karakter manusia. Husain Heriyanto menyimpulkannya dalam ke dalam tujuh etos.

Pertamaetos kecintaan pada kebenaran obyektif
Jawaban akhir matematika itu, sama. Bagaimanapun proses berpikir untuk mencapainya, semua akan berujung pada sebuah jawaban yang diakui kebenarannya oleh semua orang. Matematika mengarahkan diri pada sebuah kebenaran yang obyektif, murni, dan orisinil dan melepaskan diri dari unsur subyektivitas, prasangka, dan sentimen pribadi.
Sikap mental yang terbina dari etos matematika adalah keterlatihan bersikap dan berwatak jujur, orisinal, dan autentik serta benci kepada segala kepalsuan, manipulasi, dan kecurangan.

Keduaetos kecintaaan pada kebenaran universal
Satu tambah satu sama dengan dua itu, sudah diakui oleh seluruh dunia kebenarannya. Prinsip-prinsip matematika berlaku secara universal. Dari ujung dunia utara sampai selatan, dari zaman matematika ditemukan sampai zaman sekarang, semua mengakui kebenaran yang sama. Dari pemahaman itulah, timbul sebuah kesadaran pemikiran universal, melintasi sekat tradisi-lokal-promordial, melampaui batas ruang dan waktu.

Ketigaetos bersikap adil, bijak, dan seimbang
Ketika kita mengerjakan sebuah persamaan dalam aljabar, misalnya, kita pasti akan menyeimbangkan nilai di kanan dan kiri tanda sama dengan. Miskawaih, seorang tokoh etika muslim, menyamakan keadilan dengan proporsi geometris.

“Keadilan menuntut dihilangkannya ketidakadilan, kezaliman, berkekurangan pada sekelompok dan berkelebihan pada kelompok lain; begitupun proporsi geometris. Misalnya begini, jika ada sebuah garis yang dibagi menjadi dua bagian yang tidak sama, maka dia harus mengambil dari yang panjang, lalu menambahkannya pada yang lebih pendek sehingga memperoleh persamaan dan hilanglah kelebihan dan kekurangan tadi.”

Begitulah, matematika melatih jiwa untuk selalu mengutamakan proporsionalitas, keseimbangan, keharmonisan, dan tidak berat sebelah serta tidak diskriminatif.

Keempatetos kesederhanaan
Penyelesaian rumus matematika akan diarahkan kepada sebuah perumusan yang lebih sederhana dengan menghilangkan variabel-variabel yang tidak perlu. Karena itu pula, rumus-rumus Disini, matematika mengajarkan tentang kesederhanaan.

Kelimaetos konsisten dan tanggung jawab
Mengerjakan matematika menghajatkan kita berpikir konsisten, lurus, dan taat asas. Sikap konsisten tersebut akan menuju pada sikap istikomah dan tanggung jawab.

Keenametos tekun dan sabar
Mengerjakan matematika itu, harus tekun, teliti, sabar, tidak boleh gegabah, sembrono, dan tidak mudah menyerah jika belum menemukan jawaban.

Ketujuhetos disiplin
Kenapa setiap bidang ilmu yang meniscayakan sistematika disebut disiplin ilmu??
Karena ada sikap disiplin ketika menyelesaikan persoalan yang menghendaki adanya sistematika penalaran, tahapan-tahapan, dan ketertiban alur berpikir.
Begitu pula dengan disiplin ilmu matematika.

***

Jika kita melihat dalam kehidupan sehari-hari ada korelasi tidak positif antara matematika dengan etika-etika diatas, berarti ada beberapa sebab eksternal yang mengganggu relasi kedua bidang tersebut. Beberapa penyebabnya, mungkin:

Pertama, paradigma dikotomis dan sekuler yang dianut dan disebarkan sistem pendidikan modern. Memecah disiplin ilmu hitung dan sosial.

Kedua, anggapan keliru terhadap matematika yang hanya dianggap sebagai alat ukur tanpa ada penghayatan proses-proses yang bekerja dalam pengerjaan matematika.

Ketiga, paradigma mekanistik yang memperhatikan dimensi kuantitatif matematika dan mengabaikan dimensi kualitatif-maknawi.

***

Tak semua manfaat harus dilihat fisik materinya. Yang tak terlihat terkadang lebih banyak mendatangkan kebermanfaatan. Tak harus wujud yang selamanya jadi fokus perhatian. Terkadang, kita harus menyelam lebih dalam justru agar kita tak tenggelam dalam ketidaktahuan..

Anyway, tak harus lewat matematika juga untuk mengembangkan karakter-karakter diatas. Tapi, tidak akan lulus jadi sarjana juga mereka yang tidak mengerjakan soal-soal matematika yang jadi bahan ujiannya.
Jadi, yang masih belum bisa menerima secara senang hati keberadaan matematika untuk diselesaikan dalam kehidupan, saya kasih ucapan pamungkas dari Soe Hok Gie,

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah..

Wallahu ta’ala a’lam…

Sekian,
Wassalam..
Isnaini Nurisusilawati

Referensi:
Buku lama karya Husain Heriyanto, Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam. Sudah di posting di https://nuri.dosen.ittelkom-pwt.ac.id/2018/12/15/matematika-dan-etika-sebuah-renungan-metafisika/

Share This Post

About Author: Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *