Entrepreneur Solusi Tangkis Hoax

ittelkom pwt

Makin merebaknya berita hoax di jagad dunia maya sudah sangat meresahkan. Dunia pedagogik seketika berdebar jantungnya karena peristiwa ini disisi lain telah mengkonfirmasi sejauh mana internalisasi proses pembelajaran di Perguruan Tinggi berjalan dengan baik. Saracen, sebut saja sebagai bagian kecil dari sindikat penyebar kebencian dan hoax yang sudah berhasil diamankan pihak kepolisian. Sindikat semacam saracen tentu bukan jaringan kacangan, kemungkinan besar sindikat ini memiliki kecakapan mumpuni dalam penguasaan perangkat digital.

Alhasil potensi bencana kemanusiaan akibat keberadaan berita kebencian dan hoax juga kian mengerikan, berita hoax semakin dekat dengan kehidupan keseharian masyarakat. Pendek kata, negara musti hadir untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana kemanusiaan yang lebih besar. Upaya pemerintah sudah sangat baik, dengan diterbitkanya Revisi Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, didalam revisi tersebut telah menganulir beberapa pasal karet, diantaranya ancaman pidana tidak hanya bagi pembuat konten namun juga untuk penyebar berita bernada kebencian dan hoax. Kolaborasi semua pihak perlu dikampanyekan terus-menerus terkait edukasi dalam membangun etika konten-konten yang sehat di dunia maya lebih-lebih pada sosial media. Wirausaha yang dibarengi penguatan karakter mahasiswa, bisa saja menjadi pilihan solusi agar meminimalisir terjadinya segregasi sosial yang dimungkin terjadi karena merebaknya berita hoax.

Budaya Kritis Transformatif
Perubahan perilaku masyarakat era digital telah membuka perspektif akan potensi pasar yang kian luas dan seolah nyaris tanpa batas. Upaya mendorong munculnya bibit-bibit wirausaha muda dari kampus adalah cara strategis untuk menghadang serta membentengi mahasiswa dari sikap egoisme dan apatisme yang mengkristal.

Perguruan tinggi menjadi inkubator besar bagi lahirnya wirausahawan muda di Indonesia. Kesamaan frekuensi antara aktualisasi diri mahasiswa dalam berinovasi dengan tersedianya akses mesti sama kuatnya. Pembiasaan pola pikir yang kritis transformatif pada mahasiswa menjadi sesuatu yang mendesak sebagai counter terhadap maraknya sampah digital berwujud hoax.

Lumbung-lumbung wirausaha perlu diperbanyak, dan juga Perguruan Tinggi perlu mengambil inisiatif untuk dapat mengakselerasi pertumbuhan wirausaha pada level kampus. Dosen selain berkewajiban men-delivery pengetahuan juga berperan sebagai mentor untuk mahasiswa yang memiliki passion berwirausaha, oleh karenanya pendidikan penguatan karakter penting adanya. Ekosistem bisnis kini telah meluas sedemikian pesat, perluasan ini terjadi dari level dari tingkat start up sampai corporate dimana kini dibutuhkan kecakapan khusus dalam mengekplorasi ide secara besar-besaran namun tetap berpedoman pada bagaimana menemukan solusi dari suatu permasalahan.

Dengan mengoptimalkan kurikulum pendidikan kewirausahaan, diharapkan akan membekali mahasiswa dengan karakter membangun sekaligus mempersempit celah agar jangan sampai digunakan untuk hal-hal yang merusak seperti halnya menebar kebencian dan hoax. Sementara itu keunggulan pembelajaan kewirausahaan menurut Bygrave (10D) yaitu dream (mimpi), decisiveness (ketegasan), doers (bergerak mewujudkan keinginan), determination (pantang menyerah), dedication (komitmen dalam membangun), devotion (mencintai usahanya), details (cermat dan rinci), destiny (harus berani menentukan nasibnya), dollars (keberhasilan adalah tujuan, tidak semata-mata tentang uang), dan distribute (berani mendistribusikan kesuksesan).

Achmad Zaki Yamani, S.T., M.T

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *