Ketika Asa Masyarakat Digital dan Local Wisdom Bersua: Manifestasi Watak Lakon Bawor (Bagong)

Tepat pada tanggal 21 Agustus 2017, berdasarkan SK Kemenristekdikti No. 446/KPT/I/2017, Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom (ST3 Telkom) Purwokerto bertransformasi menjadi Institut Teknologi Telkom (IT Telkom) Purwokerto.

Launching institusi diadakan pada tanggal 29 Agustus 2017 dan dihadiri langsung Bupati Banyumas, ketua Yayasan Pendidikan Telkom (YPT), para rektor universitas di Purwokerto, dan jajaran kepolisian dan TNI. Pada acara tersebut, dilaksanakan pula penandatanganan prasasti Kawasan Pendidikan Telkom Terpadu Purwokerto.

Banyak asa muncul ketika perubahan nama dari sekolah tinggi menjadi institut. Harapan ini muncul dari stakeholders yang langsung maupun tidak langsung mendukung perubahan institusi ini.

Salah satu harapan dari Bupati Banyumas adalah agar IT Telkom Purwokerto menjadi salah satu institusi besar dan melesat sehingga mampu melampui institusi-institusi pendidikan existing demi nama baik Banyumas.

Beban besar ada di institusi yang secara de jure masih seumur jagung. Akan tetapi, secara de facto, telah lahir dengan nama Akademi Teknik Telekomunikasi (Akatel) Sandhy Putra Purwokerto tahun 2002.

IT Telkom Purwokerto merupakan sebuah institusi yang concern pada perkembangan teknologi. Tidak dipungkiri, dewasa ini, perkembangan teknologi sangatlah pesat. Perkembangan ini berdampak pada pola hidup dan pola pikir manusia. Oleh sebab itu, bersemboyan “bridging technology for humanity” adalah suatu keniscayaan.

Era Perkembangan Teknologi Digital

Perkembangan teknologi bertujuan memudahkan aktivitas manusia sehingga lebih efektif dan efisien. Selain berdampak positif, kesalahan dalam memahami teknologi juga berdampak pada pemikiran pragmatis yang serba instan sehingga dalam achieving target sangatlah rendah.

Pada era digital ini, perkembangan teknologi digital juga menjadi bagian dari ranah riset IT Telkom Purwokerto. Sebagai contoh, bisnis yang berbasis aplikasi di masa kini mempunyai peranan yang vital.

Sederhananya, smartphone sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Smartphone sebagai salah satu device digital mampu memberikan kemudahan dalam bentuk aplikasi yang mendukung keseharian manusia.

Aplikasi Go-Jek adalah contohnya. Go-Jek bertransformasi dengan berbagai pemenuhan kebutuhan jasa seperti transportasi online, pemesanan tiket bioskop, cleaning service, dan top up pulsa.

Go-Jek menjadi alternatif baru bagi masyarakat di tengah kesibukan, terutama bagi masyarakat perkotaan. Meskipun banyak yang belum tahu, Go-Jek secara tidak langsung mampu menjadi konsultan marketing dan politik handal karena mereka mempunyai data pelanggan-pelangganya beserta titik koordinat yang presisi.

Better Banyumas, Sebuah Jargon Ber-Ikon Bawor

Lalu bagaimana dengan Purwokerto? Secara geografis, Purwokerto adalah ibukota Kabupaten Banyumas. Meskipun Kabupaten Banyumas berada hampir di perbatasan Propinsi Jawa Tengah bagian barat, Kabupaten yang berjargon Better Banyumas ini tidak melupakan adat istiadat Jawa.

Istilah kerennya adalah isih nJawani. Banyak tradisi maupun simbol-simbol kabupaten yang menggunakan kekhasan Jawa. Seperti penggunaan lakon pewayangan Bawor (dalam pewayangan Solo-Jogja disebut Bagong). Bawor yang mempunyai nama asli Carub Bawor atau yang berarti campur lebur, atau istilah sekarang dapat disebut “asimilasi”.

Asimilasi inilah yang menjadikan masyarakat Banyumas welcome terhadap semua etnis, sehingga akulturasi budaya terjadi antara perpaduan Jawa (Matraman Jogja-Solo), Sunda, Cina, Islam, Hindu, Budha, Konghucu, dan Barat.

Asimilasi telah menjadikan pola pikir masyarakat lebih dewasa dalam menyikapi kondisi yang heterogen. Sebagai tambahan, asimilasi ini juga berlandaskan pada sosio-kultur masyarakat yang agraris.

Watak Bawor dalam pewayangan adalah lugu, jujur, dan mbodho (Lih. B. Herusatoto, Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak, LKiS Pelangi Aksara: Yogyakarta, 2008). Mbodho di sini adalah usaha Bawor untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi dengan ending yang win-win solution.

Watak ini mempunyai arti besar dalam memposisikan diri sebaik-baiknya di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang multi-interests.

Sebagai babak baru perkembangan teknologi digital, peran institusi sangatlah esensial di samping peran pemerintah sebagai abdi masyarakat dan industri. Institusi diharapkan mampu menjadi motor inovasi teknologi.

Selain menjadi motor, institusi juga berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial dalam mengedukasi dan melayani masyarakat. Masyarakat tidak akan berduyun-duyun ke institusi pendidikan untuk menanyakan sejauh mana riset mereka, melainkan mereka lebih “menunggu” hasil yang mampu mengangkat taraf hidup mereka.

Secara global, masyarakat Banyumas sangat mendukung “asimilasi” teknologi yang berlandaskan local wisdom, terutama yang berbasis digital.

Local wisdom terdiri atas lima kesatuan yang meliputi kehidupan manusia, pekerjaan manusia, waktu dan tempat yang komprehensif, hubungan antara manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan sesama (Lih. T, Teguh, Ethics Values as The Portrayal of Banyumas Local Wisdoms in The Novels of Ahmad Tohari, International Journal of Languages’ Education, 2016).

Local wisdom menjadi hal mutlak yang harus diperhatikan ketika kita akan menyambangi masyarakat. Lha wong Belanda saja ketika menjajah di Indonesia, mereka tidak mengubah sosio-kultur yang ada. Yang mereka ubah hanyalah tatanan politik agar jalinan kerja sama berjalan mulus sesuai dengan visi Belanda.

Kelahiran yang Dinantikan

Lahirnya IT Telkom Purwokerto diharapkan mampu menjawab kebutuhan publik Kabupaten Banyumas khususnya dan masyarakat global umumnya. Institusi ini harus mampu bersaing dari tingkat regional hingga internasional.

Institusi ini harus menjadi jembatan kehidupan epigon masyarakat yang hanya meniru saja. Lahirnya masyarakat digital saat ini membuat sesuatu mudah ditiru bahkan dalam hitungan detik. Peniruan ini telah merasuki semua ranah sosio-kultural, ekonomi, maupun politik.

Meskipun banyak peniruan yang bersifat rasional, relevan, dan berurgensi, masyarakat seolah telah menunjukkan suatu potensi epigonis yang tidak kecil. Hal ini dibuktikan dengan cara berpikir yang mempersyaratkan dipeliharanya identitas diri di tengah pengoperan hal-hal yang datang dari luar (Lih. Nadjib, E.A, Indonesia Bagian dari Desa Saya, Kompas: Jakarta, 2013, hlm.139).

Oleh sebab itu, peran institusi sebagai jembatan akademis masyarakat diharapkan mampu mengakomodir unsur dan tipe-tipe masyarakat digital tanpa mengabaikan kearifan lokal suatu daerah.

Manifestasi watak kelakonan Bawor harus mampu diimplementasikan pada kehidupan masyarakat digital. Watak yang lugu, jujur, dan mbodho terdengar cukup ndeso. Akan tetapi, watak ini mempunyai great meaning di era digitalisasi.

Watak lugu terhadap perkembangan teknologi mempunyai peran agar dalam penggunaan teknologi sesuai porsi tanpa melanggar hak-hak orang lain. Watak jujur pada masyarakat digital diharapkan mampu menghadirkan informasi yang sesuai fakta dan jauh dari hoax.

Terakhir adalah watak mbodho, di mana watak ini menjadi penengah konflik masyarakat digital yang terjadi tanpa menimbulkan konflik baru yang lebih besar. Semangat perubahan yang menjunjung hak asasi manusia melekat pada tiga watak kelakonan Bawor tersebut.

Sebagai penutup, izinkanlah saya mengucapkan selamat kepada IT Telkom Purwokerto. Pepatah mengatakan, bayi yang baru lahir itu suci. Kesucian ini hendaknya terpancar ada di diri IT Telkom Purwokerto sebagai bagian dari lokomotif perubahan.

Perubahan yang diharapkan hendaknya mampu mempengaruhi ke ranah struktural maupun kultural. Perubahan ini juga mampu menginisiasi khazanah kemajemukan Indonesia di mana sebagian besar masyarakatnya adalah masyarakat agraris yang masih memegang teguh local wisdom-nya.

Sekali lagi, selamat dan sukses untuk IT Telkom Purwokerto.

Fauzan Romadlon, S.T.P., M.Eng

Tulisan asli di qureta

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *