Backhaul Sebagai Optimalisasi Reverse Logistics Pada Rantai Pasok Kertas

Kertas menjadi sebuah barang yang tidak terpisahkan bagi kehidupan.  Kertas adalah pemeran utama dan bukti dalam setiap model perjalanan sejarah panjang suatu bangsa. Diketahui bahwa salah satu bukti sejarah adalah adanya prasasti yang ditulis di batu, serat tanaman, dan kulit binatang menjadikan ketiga benda tersebut sebagai cikal bakal diproduksinya kertas.

Lain dahulu lain sekarang. Teknologi sudah berkembang dan peran kertas sebagai salah satu bukti kearsipan sudah mulai tergeserkan dalam bentuk soft file. Akan tetapi, menurut Handoyo (2017) trend kosumsi pulp (bubur kertas) dan kertas pada tahun 2017 diprediksi akan meningkat diangka 10,43 juta ton dari konsumsi tahun 2016 sekitar 7,93 juta ton.

Peningkatan kapasitas ini akan berdampak pada kebutuhan bahan baku kayu yang diprediksi juga  akan meningkat sekitar 45 juta meter kubik. Hal ini membuktikan bahwa diproduksinya kertas tidak hanya sebatas komponen administrasi saja.

Selain bahan baku kayu, industri kertas juga bergantung pada gas bumi. Oleh karena itu, melalui Peraturan Kementrian ESDM No.16 Tahun 2016, besar harapan bagi para pelaku industri kertas untuk bisa mengoptimalkan regulasi guna peningkatan kapasitas produksi.

Undang-undang tersebut berisi bahwa harga gas disesuaikan dengan keekonomian lapangan, besaran harga di dalam negeri dan internasional, kemampuan daya beli konsumen dalam negeri, dan nilai tambah dari pemanfaatan gas alam di dalam negeri (Tiwi, 2016).

Di satu sisi industri kertas mendapatkan angin segar, di sisi lain industri kertas juga harus menunjukkan kemampuan survival-nya. Menurut Julianto (2017) adanya Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2016 tentang Hutan Tanaman Industri (HTI) yang menggunakan lahan gambut sebagai ekpansi  lahan tanam, menjadikan industri kertas berpikir dua kali untuk ekspansi lahan.

Selain itu, peraturan Kementrian Perdagangan No. 31 Tahun 2016 tentang impor limbah non bahaya beracun menambah derita industri kertas, sehingga mengakibatkan minimnya bahan baku raw material terutama pembuatan pulp .

Bila melihat angka konsumsi kertas yang mencapai 10,43 juta ton pada tahun 2017, besar kemungkinan terdapat residu atau kertas yang sudah tidak terpakai kembali. Pada dasarnya kertas-kertas residu (bekas) tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku pulp.

Bila diasumsikan 25% kertas yang telah dikonsumsi menjadi residu dan perusahaan kertas dapat mengoptimalkan penggunaan bahan baku tersebut, niscaya industri kertas mampu meningkatkan resistensi akibat regulasi yang dirasa belum memihak.

Salah satu cara mendapatkan kertas bekas adalah dengan model reverse logistics. Menurut Zaroni (2017) reverse logistics adalah sebuah model logistik terbalik yang berfokus pada pemeliharaan, daur ulang, pengembalian produk, perbaikan,dan pembongkaran produk.

Secara umum reverse logistics adalah model aliran barang yang berjalan terbalik dari konsumen kembali ke produsen untuk meningkatkan nilai barang sehingga barang tersebut dapat ditingkatkan nilai ekonomisnya.

Reverse logistics selain dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor, model ini juga berperan dalam pelestarian lingkungan. Semakin banyak kertas bekas yang diserap oleh pabrik, ancaman kerusakan lingkungan akan sedikit teratasi.

Meskipun diketahui bahwa kertas adalah salah satu bahan yang ramah lingkungan dan mampu di daur ulang, akan lebih baik bila industri kertas menjadi pionir penyelamatan lingkungan. Bila sebuah industri kertas dapat mengoptimalkan reverse logistics kertas bekas, efek larangan penggunaan lahan gambut serta impor bahan baku non bahaya tidak akan menjadi kendala ke depannya.

Selain itu sebagai pionir pelestari lingkungan, industri kertas juga dapat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat kecil dengan dijadikannya sebagai agen-agen pengumpul kertas-kertas bekas. Sebuah indutsri kertas hendaknya mampu mengedukasi masyarakat terkait pemisahan jenis-jenis sampah seperti organik dengan anorganik.

Pemisahan jenis sampah adalah salah satu bagian penting dalam proses daur ulang sampah. Proses pemisahan sampah ini akan lebih baik bila dikerjakan di tingkat end customer atau organisasi terakhir sebagai pengguna kertas. Oleh karena itu, edukasi pemisahan jenis sampah sangat penting sebagai langkah dasar pada setiap tahapan daur ulang sampah.

Selain isu lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat, kegiatan reverse logistics bertujuan mem-branding perusahaan atau mempromosikan produk-produk perusahaan yang ramah lingkungan. Kegiatan ini akan memikat konsumen-konsumen baru atau menambah jumlah orderan di tingkat konsumen existing demi tercapainya target perusahaan.

Branding pro-lingkungan dan kesejahteraan masyarakat akan mengangkat citra perusahaan. Hal ini akan berimbas terhadap image perusahaan sehingga dapat menjadi kekuatan baru dalam pengembangan model bisnisnya.

Lebih lanjut lagi, Pengumpulan kertas bekas akan lebih baik bila diinisiasi dan diorganisir oleh perusahaan kertas. Perusahaan kertas bertindak sebagai pengatur aliran barang dari konsumen ke produsen. Pengaturan atau controlling ini bertujuan untuk menekan tingginya biaya logistik.

Perusahaan-perusahaan besar yang telah menerapkan reverse logistics biasanya mengandalkan 3PL (Third Party Logistics). 3PL adalah perusahaan pihak ketiga sebagai penyedia jasa logistik. Keuntungan penggunaan 3PL adalah semua jenis manajemen pendistribusian barang diserahkan kepada pihak ketiga dimana pihak produsen hanya “terima jadi”.

Selain biaya yang tinggi, kelemahan 3PL adalah koordinasi antara konsumen akhir dan driver yang lebih rumit. Lebih jauh lagi, kontrol kargo lebih susah dibandingkan bila menggunakan angkutan atau moda milik perusahaan.

Sebagai antisipasi tingginya biaya logistik pada model reverse logistics, perusahaan kertas perlu menerapkan metode backhaul. Martono (2016) mendefinisikan backhaul sebagai pemanfaatan moda yang telah melakukan pengiriman barang untuk kembali ke posisi semula atau awal baik dalam kargo penuh atau setengah penuh.

Sebagai contoh, perusahaan kertas A hendak mengirim kertas ke customer dengan truk dari Surabaya menuju Yogyakarta.  Bila menghendaki truk tersebut tidak kosong ketika kembali ke pabrik di Surabaya, pelanggan di Yogyakarta akan menaikkan kertas bekas yang telah dikumpulkan oleh pengepul ke atas truk.

Bila muatan truk tersebut belum penuh atau kondisi setengah penuh, truk tersebut diarahkan untuk mengambil atau menikkan kertas bekas di daerah yang dilalui seperti Solo. Sehingga, ketika tiba di Surabaya, truk tersebut terisi telah terisi penuh kargo. Pada setiap tahapan proses ini, hal yang paling utama adalah komunikasi disemua lini rantai pasok.

Brown (2017) mengemukakan keuntungan-keuntungan dari backhaul. Keuntungan backhaul adalah menghemat waktu dan biaya pada kargo truk, pengguna jasa akan mendapatkan diskon harga (efisiensi biaya), dan penyedia jasa logistik akan mendapatkan truk mereka kembali tanpa keterlambatan.

Backhaul pada model reverse logistics merupakan sebuah terobosan baru ditengah hadirnya regulasi-regulasi yang menghambat kinerja produksi industri kertas. Regulasi bukanlah sebuah ancaman atau dinding penghalang melainkan sebagai jembatan untuk terus berinovasi di era kompetisi saat ini.

Sebagai penutup, penerapan backhaul pada model reverse logistics akan meningkatkan pelayanan dan kepuasan terhadap pelanggan. Selain itu, performa rantai pasok perusahaan juga meningkat sehingga efisiensi biaya dicapai. Bila efisiensi dapat tercapai, sebuah perusahaan akan mampu bersaing dengan competitor sehingga lebih kompetitif (Levi & Kaminsky, 2012).

 

Fauzan Romadlon

Link tulisan asli di qureta

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *