Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Teknik Industri ITTP & Koleg University Islam Antarbangsa Selangor Malaysia di Waduk Penjalin

Selasa, 17 Oktober 2017…

 

Semua bermula dari sini. Dari kehadiran 8 saudara serumpun Melayu dari Koleg University Islam Antarbangsa Selangor (KUIS) ke Institut Teknologi Telkom Purwokerto. Hingga, terciptalah kisah ini. Kisah dua bersaudara yang bersama-sama menjadi abdi masyarakat di Waduk Penjalin tepatnya di Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

 

 

Jika kearifan lokal berarti cerdasnya masyarakat hingga bisa memanfaatkan nilai luhur tradisi budaya untuk mengatur kedamaian tatanan kehidupan masyarakat mereka, maka di Waduk Penjalin inilah kearifan tersebut tertemukan.

 

Ya, di tempat dimana alam menjadi sumber penghidupan, di tempat dimana nilai mitos masih dipercaya, di tempat dimana sinyal telekomunikasi pun tak ada. Di tempat inilah, dua dosen Teknik Industri ITTP ikut serta mengabdikan diri mereka. Bersahabat dengan masyarakat, membuka satu dua pintu pemahaman yang terkunci, mengharmonikan alam dengan teknologi.

 

 

“Pendampingan Ekonomi Lokal Berbasis Digital”
Begitu, tema besar yang diusung dalam kegiatan kali ini.

 

Diawali dengan presentasi dari Fauzan Romadlon, dengan materi “Management Skill“, yang berusaha mengajak masyarakat desa untuk mengenali diri mereka sendiri lebih mendalam. Kelebihan, kekurangan, potensi, ancaman. Dengan terjawabnya poin-poin tersebut, terpetakanlah kemungkinan-kemungkinan usaha yang dapat dilakoni masing-masing warga.

 

Dilanjutkan dengan presentasi dari Achmad Zaki Yamani, dengan materi “Manajemen Bisnis”, yang mencoba mengajak masyarakat untuk mengembangkan usaha lokal dengan pendekatan digital marketing. Teknologi digunakan untuk meningkatkan skala usaha, memperluas akses pasar, dan memperbaiki sistem pelaporan keuangan bisnisnya. Sharing session dengan warga, semoga dapat menjawab kebuntuan-kebuntuan warga terkait usaha yang dikembangkan selama ini.

 

 

Last but not least,
Akar menentukan kokoh tidaknya sebuah pohon. Desa itu, akar dari suatu negara. Kuatnya ketahanan desa, menjadi pondasi kokohnya sebuah negara. Maka, penguatan harus terus dilakukan. Pintu-pintu yang terkunci, perlahan harus dibuka. Dan itu, menjadi PR kita bersama..

 

Salam untuk saudara dari Malaysia yang sudah sudi bersama mengunjungi dan menyapa serta menginspirasi warga desa Winduaji. Kebersamaan, semoga selalu terpatri dalam hati.

 

🙂 Sepenuh abdi, TI ITTP 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *